
Ilmu dan resep masakan
Setiap ilmu yang benar, pasti mempunyai dua sisi (aspek), yaitu sisi teoritis (qauliyah) dan sisi praktis (fi’liyah), yang satu sama lain tidak bisa dipisahkan.
Sisi teoritisnya terbagi menjadi dua, yaitu: (1) metode, dan (2) sistematika.
Yang pertama, metode, mencakup hal-ihwal prosedur atau cara pencapaian atau perumusan suatu ilmu (scientific approach).
Yang kedua, sistematika, berkaitan dengan teknik penyampaian, atau cara penyusunan suatu ilmu, sehingga menjadi suatu rangkaian keterangan yang dapat dipahami. Lebih baik lagi bila rangkaian keterangan itu dapat dipahami dengan mudah.
Sisi praktisnya juga terbagi menjadi dua, yaitu: (1) analitika, dan (2) obyektivita.
Analitika berkaitan dengan pendataan atau pengumpulan data (bukti) dari segala yang disebutkan dalam suatu teori.
Obyektivita berhubungan dengan pencocokan antara teori dan data, sehingga bila teorinya menyebut suatu bangunan, misalnya, maka pembangunan ulang (rekonstruksi) pun bisa dilakukan.
Gambaran sederhana dari dua sisi ilmu itu bisa didapat dengan mengambil resep masakan sebagai perumpamaan (analogi). Dalam hal ini, metode mencakup nama masakan dan cara memasaknya. Sedangkan uraiannya dari A sampai Z, itulah sistematika. Ketika sang juru masak pergi ke pasar untuk mencari segala bahan dan alat yang dibutuhkan untuk mencoba sebuah resep, berarti ia melakukan analitika. Setelah itu, ketika ia mempraktikkan resep itu di dapur, berarti ia sedang melakukan obyektivita. Bila si juru masak bekerja dengan cermat, dan hasilnya ternyata bagus, berarti resep itu memang sebuah resep yang benar (obyektif). Tapi, bila sudah diterapkan dengan teliti tapi hasilnya buruk, tidak sesuai dengan yang dijanjikan, berarti resep tersebut tidak benar.
Sebaliknya, sebuah resep yang benar, bila tidak diterapkan secara berdisiplin, hasilnya juga pasti tidak sesuai dengan yang digambarkan.
No comments:
Post a Comment