
Mengingat bahwa saya sudah pernah 'ngaji' seperti yang saya sebutkan sebelum ini, maka bolehlah saya mengatakan bahwa saya sudah punya hipotesis (hypotheses) atau "pijakan awal untuk memandang" Al-Qurãn.
Tapi bila istilah hipotesis mungkin terlalu berbau ilmiah, turunkan saja ia menjadi asumsi (dugaan, perkiraan; anggapan).
Meskipun demikian, baik hipotesis atau asumsi, keduanya sebenarnya sama saja. Sama-sama hanya akan menjadi omong kosong bila tidak ditindaklanjuti dengan kegiatan pengkajian alias studi.
Al-Qurãn adalah ilmu
Ini asumsi dasar saya.
Pijakannya adalah, pertama, kata ilmu sendiri adalah istilah Qurãni. Kedua, dalam Al-Qurãn bisa kita temukan begitu banyak kata yang punya kaitan morfologis dengan istilah ilmu. Kita bisa mengusutnya mulai dari kata kerja lampaunya yang terdiri dari tiga huruf, 'alima, yang kemudian beralih pola menjadi 'allama (dua huruf l), dan seterusnya.
Secara selanyang pandang saja sudah terlihat bahwa kata-kata tersebut terdapat dalam ratusan ayat dari puluhan surat.
Ketiga, konon, imam Syafi'i juga pernah mengatakan bahwa "sesungguhnya agama (Islam) ini adalah sebuah ilmu" (inna hadza-dini 'ilmun).
No comments:
Post a Comment