
Apa Yang Saya Maksud Dengan Studi Al-Qurãn?
Studi jelas diambil dari bahasa Inggris, study, dan saya memahaminya sebagai "kegiatan mempelajari sesuatu dari A sampai Z".
Jadi, yang saya maksud dengan "studi Al-Qurãn" adalah mempelajari Al-Qurãn dari A (awal) sampai Z (akhir; selesai).
Sebagai perbandingan, sebut saja Arnold Joseph Toynbee (April 14, 1889 – October 22, 1975), sejarahwan Inggris yang menulis 12 jilib buku sejarah dunia, dan memberinya judul A Study of History (Sebuah Studi Sejarah), untuk menegaskan bahwa buku yang ditulisnya itu adalah sebuah hasil studi.
Mungkin anda bertanya sekarang ini studi saya sudah sampai di mana?
Jawabananya adalah: masih di titik A.
Saya memang sudah 'mengaji' sejak 20-an tahun lalu. Tapi hanya mengaji dalam pengertian belajar agama seperti kebanyakan orang. Ikut majlis ta'lim. Diskusi. Ngobrol. Membaca berbagai tulisan tentang agama.
Sampai sejauh itu, saya belum merasa telah benar-benar melakukan kegiatan yang layak disebut sebagai studi Al-Qurãn, dalam arti menempatkan teks Al-Qurãn sebagai bahan kajian.
Hal itu cukup menggelisahkan.
Saya merasa sebagai muslim. Tapi saya belum mengkaji kitab yang saya akui sebagai pedoman hidup saya.
Bagaimana mungkin Al-Qurãn bisa menjadi pedoman hidup bila saya belum pernah berusaha untuk mengenalnya sebaik-baiknya, sehingga saya bisa benar-benar beriman? Pertanyaan itu timbul setelah saya merenungkan surat Al-Baqarah ayat 121:
"Mereka yang ketika Kami datangkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qurãn), (lalu) mereka terus mempelajarinya dengan sebenar-benarnya, mereka itulah yang (pasti) akan beriman dengannya..."
Jadi, saya pikir, bagaimana mungkin saya mengaku bahwa saya "telah beriman", padahal saya belum pernah "mempelajari Al-Qurãn dengan sebenar-benarnya"?
No comments:
Post a Comment